Selasa, 10 September 2013



ikan mas babon  yg digemari pancinger. foto marcus

Tidak bisa dipungkiri bahwa ikan mas merupakan ikan yang menjadi target utama  para pancinger Indonesia. Mancing ikan mas bagaikan cerita legenda yang merakyat. Dari jaman dahulu sampai sekarang ini telah banyak pancinger yang selalu rindu  dan begitu tergoda  akan giliat geliut  ikan mas. Ikan mas atau ikan ikan karper (Cyprinus carpio) bukan hanya menjadi  ikan air tawar yang bernilai ekonomis yang tersebar luas di Indonesia sekaligus menjadi ikan paling popular di pemancingan seluruh Indonesia.

Pada saat ini rasanya anda tidak akan kesulitan untuk mencari lokasi pemancingan ikan mas. Hampir setiap daerah pasti ada pemancingan ikan mas. Uniknya baik pemancingan besar  maupun kecil selalu ada pancinger yang memancingnya. Memang sejak dahulu kala ikan mas  yang aslinya berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok selalu menjadi ikan air tawar digemari semua orang.
Ikan mas  yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Semenjak masuk ke Indonesia, menjadi ikan paling digemari petani dan berkembang bagaikan “virus” menyebar ke seluruh Indonesia dan akhirnya menjadi ikan yang sangat familyer bagi para pancinger.
Dari berbagai pustaka yang kami himpun mengenai sejarah asal usul ikan mas di Indonesia, konon budidaya ikan mas sudah terjadi sebelum pada abad 19 di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat.  Masyarakat setempat sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan mas di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Selanjutnya ikan mas dari daerah Jawa Barat ini menyebar pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu.  Dari sinilah ikan mas bagaikan sebuah virus yang menyebar keseluruh pelosok Indonesia.
Penyebaran ikan mas ini bukan hanya membawa berkah bagi peternak ikan saja, namun membawa berkah bagi banyak orang. Ikan yang terkenal mudah dikembang biakkan ini mulai membanjiri pasar dan para pedagang memulai merasakan keuntungan dari ikan mas dan permintaan ikan mas terus meningkat dari tahun ke tahun.

Lomba mancing ikan mas selalu ramai. Foto: Marcus W Nugroho
Permintaan ikan mas semakin meningkat tajam seiring dengan merebaknya hobi memancing.  Cikal bakal tumbuhnya pemancingan memang tidak terlepas dari kegiatan pancinger yang bermula memancing ikan di kolam peternakan ikan, di balong-balong atau tempat pemeliharaan ikan. Karena semakin hari semakin banyak pancinger yang berdatangan ketempat tersebut maka pemilik lahan atau perternak ikan melirik bahwa bisnis menjual ikan dengan cara memancingpun bisa menguntungkan. Lantas para peternak ikan membuat lahan yang bisa dipancingin oleh pancinger dengan system membayar ikan per kilonya, nah di sini munculah istilah kolam kiloan.
Lain lagi pada kolam yang tidak banyak ikannya maka pemilik kolam memperbolehkan pancinger mancing sepuasnya sepanjang hari dengan syarat membayar kesepakatan untuk memancing di sana, maka munculah istilah kolam harian.  
Keasyikan mancing ikan mas di kolam semakin menyebar ke seluruh pelosok negeri. Seiring dengan perkembangan jaman sekitar tahun 1980-an, beberapa pancinger menginginkan suatu kompetisi mancing layaknya kompetisi sepak bola galatama. Istilah galatama yang dipakai di sini sebenarnya adalah milik dunia persepakbolaan. Persamaannya mungkin pada sifat keduanya yang mengutamakan kompetisi.

senang setelah dpt ikan mas
Dalam lomba mancing galatama umumnya adalah ikan hasil pancingan tidak dibawa pulang melainkan milik penyelenggara yang setelah dilakukan penimbangan diceburkan kembali ke empang, jadi boleh dibilang ikan yang dipancing di galatama ini adalah ikan mas bekas yang telah terpancing sebelumnya. Soal waktu  penyelenggaraan sangat ketat berkisar 2-2,5 jam disebut babak atau ronde.  Aturan mancing yang ketat sesuai kesepakatan penyelenggara dan pancinger yang mengikutinya.
Masih sama dengan kegiatan mancing yang lainnya untuk mancing galatama, maka pancinger dituntut menguasai teknik dan kreatifitas mancing yang tinggi, akibat dari adanya batasan aturan dan waktu yang ketat tadi. Jadi meskipun empang yang dipakai bergalatama ini ikan yang ditebar sangat banyak tidak menjadikan kegiatan yang satu ini menjadi lebih mudah karena tingginya hasrat masing-masing pancinger untuk berkompetisi dan bersaing ketat saat lomba.
Dari persaingan yang ketat inilah muncul pe-galatama yang handal, dimana pengalaman pancinger dan “jam terbang yang tinggi” akan mengasah pancinger guna menjadi pancinger yang lihai dan  handal. Soal kehandalan mancing ikan mas galatama sebenarnya konsekuensi dari olah pikir dan kreatifitas pancinger yang tiada henti. Jadi sebenarnya pancinger galatama yang dituntut adalah untuk kreatif memancing sama dengan pancinger ikan-ikan lain yang mana kita dituntut kreatif untuk mendapatkan hasil maksimal. Upah dari daya kreatif inilah para pancinger  bisa menjadi juara dan mendapat hadiah bisa mendapat upah berupa uang ataupun barang.
Hasil juara dalam sebuah kompetisi yang berupa uang atau hadiah merupakan sebuah usaha yang patut dihargai. Persoalannya banyak orang mengetahui bahwa penghargaan dari olah tehnik mancing galatama ini dianggap merupakan ajang pertaruhan, padahal jika diteliti dengan seksama galatama itu ajang kreatifitas pancinger untuk menjadi sang juara (memang tidak tertutup kemungkinan kalau ada orang menjadikan galatama jadi pertaruhan) melalui ikan mas.
Jadi kalo boleh kami ibaratkan  geliat geliut ikan mas itu bak wanita cantik  yang melenggak-lenggok di depan para pria muda, tentu saja membuat mata dan jantung yang memandangnya bergetar hebat  dan mereka bersiul menarik perhatian wanita itu. Nah inilah lenggak-lenggok ikan mas yang membuat hati gemas.*** naskah dan foto : Marcus W Nugroho

0 komentar:

Posting Komentar