Sabtu, 27 April 2013



Sudah lama kami mendengar potensi besar sungai-sungai di Kabupaten Merauke, Tanah Papua. Keberadaan ikan-ikan fresh water berukuran jumbo dan eksotis seperti ikan barramundi, benar-benar menggiurkan kami. Di sinilah kami datang sekarang,  di daerah paling timur Indonesia ini.

Saat musim penghujan, daerah yang kami lewati ini sejatinya adalah rawa yang terendam air. Sedangkan di musim kemarau seperti sekarang, air pun surut. Kami terpaksa menggunakan motor trail karena long boat yang kami pakai kandas. Tapi tak apa, perjalanan kami jadi tambah seru. Ini benar-benar wild fishing di alam liar Papua.

Di beberapa lokasi yang tergenang air, kami harus turun dari motor agar motor lebih mudah melaju. Itu pun bukan perkara mudah, terkadang sepeda motor harus berjibaku dengan tanah berlumpur. Setelah menempuh satu jam perjalanan kami pun tiba di tepian sungai. Di sini kami pun menunggu, karena perahu terpaksa memutar untuk menghindari kandas.


Joe dan Andre rupanya sudah tak sabar. Mereka pun mulai casting sambil menunggu perahu tiba. tak lama, Joe pun strike. Ia fight tanpa kesusahan dan  ikanpun berhasil ia naikkan. Seekor ikan keropak, orang lokal setempat menyebutnya ikan duri. Ikan ini memang memiliki sejenis patil yang racunnya cukup untuk membuat orang demam meriang.


“waow…, sungai ini benar-benar besar potensinya. Di daerah hilir dekat pemukiman ini saja,  tak susah mendapatkan ikan,” kata saya.
Perahu panjang yang kami tunggu pun akhirnya tiba. Perahu jenis inilah transportasi sehari-hari masyarakat di sini. Kami pun bergegas naik.  Selain bersama pancinger dari Jakarta,  kami pun kebetulan ditemani juga oleh tentara penjaga perbatasan dari Koramil setempat. Daerah yang kami kunjungi ini memang dekat dengan daerah yang bergejolak atau daerah merah. Keberadaan Bapak tentara ini cukup membuat kami merasa aman.


Setelah semua siap, kami pun berangkat. Perjalanan menggunakan perahu menempuh waktu sekitar lima jam. Wah.. bukan waktu yang singkat, di perahu sempit seperti ini,  perjalanan ini tentu terasa tak nyaman dan membuat sekujur badan pegal.


Tiba di daerah hulu kami pun menghentikan perahu dan mulai casting untuk menjajaki potensi ikan. Jika frekuensi sambaran ikan cukup bagus,  kami akan memutuskan menetap di lokasi ini. Umpan-umpan minow pun mulai kami mainkan. Ikan baramundi atau kakap putih menjadi target kami kali ini.  Tak lama kemudian saya membuka peruntungan dan berhasil strike. Ikan hook up dan saya mulai fight.  Saya tersenyum melihat ikan,  karena lagi- lagi seekor ikan duri. “Sayang bukan ikan target kami,” kata saya tersenyum.


Kami mulai casting dan kali ini Iwan yang strike. Iwan terus duel mati-matian dengan ikan. Di kejauhan ikan meloncat dipermukaan. Ikan barramundi berontak tak jauh dari kami. Akhirnya taklama kemudian Iwan berhasi mendapat barramundi. “Tarikannya sangat kuat, mantaaff,” katanya senang.

Wah.. benar saja, inilah ikan baramundi yang kami cari. Keberadaan ikan baramundi berukuran jumbo seperti ini memang masih semarak. Tak sulit bagi nelayan setempat untuk mendapatkan ikan ini dengan jaring atau jala,  bagi masyarakat di sini ikan baramundi ini terkenal lezat dan menjadi hidangan yang cukup favorit.


Kembali Andre dan Joe casting. Kali ini andre mengawali keberhasilan. Kali ini umpan andre yang disambar terlebih dahulu,  fish on. Seeekoar arwana menari di atas permukaan air. Kami semua terdiam bahagia ketika melihat ikan arwana itu. Tak disangka, seekor ikan arwana berhasil dinaikkan. Kami pun tak bisa menyembunyikan kekagetan sekaligus kegembiraan kami. Satu satu kami mengucapkan selamat kepada Andre.  Untuk menjaga populasi ikan ini tetap lestari,  kami pun melepaskan kembali ke alam.

Lagi-lagi ikan arwana menyambar. Kali ini iwan yang beruntung. Saya benar-benar tercengang,  tak menyangka ikan ini mau menyambar minow kami.  Inilah Arowana Papua dari jenis Saratoga. Berbeda dengan jenis Jardini yang berbentuk lebih pendek dan cenderung bulat, jenis saratoga ini bertubuh lebih memanjang dan ramping.

Dari semula kami hanya mentargetkan ikan barramundi, lalu kami pun mulai melirik arwana papua ini. Kami memutuskan berkemah tak jauh dari lokasi strike ikan arwana. Pagi ini kami akan melanjutkan casting. Perahu pun kami arahkan lebih ke hulu,  kami berharap mendapatkan lebih banyak strike di sana. Kami kembali mengandalkan teknik casting. Umpan-umpan minow ini kembali kami andalkan.
Sampai di lokasi perbatasan Bouven Digoel kami drifting dan casting. Oho… belum-belum umpan kami sudah menyangkut pada ranting yang tenggelam. Inilah salah satu contoh kesulitan memancing di tempat seperti ini, pancinger memang harus jeli agar minow yang dilemparkan tidak menyangkut. Selain membuat repot dan membuang waktu, melepaskan umpan yang tersangkut seperti ini tentu akan mengganggu dan mengusir ikan yang ada di bawahnya. Peluang strike pun jadi nol. Kami memang harus lebih cermat.
Joe membuka peruntungan strike hari ini. Walau berukuran kecil, ikan gabus ini cukup melawan. Inilah ikan yang disebut gastor atau gabus toraja. Sesuai namanya ikan ini memang bukan ikan asli sungai Bian,  melainkan pendatang dari daerah Toraja Sulawesi Selatan. Konon, ikan ini dibawa para transmigran asal daerah Toraja Sulawesi Selatan dan tak sengaja lepas. Ikan ini berkembang biak pesat di sini, Andre pun rupanya tak mau kalah,  kali ini ikan menyambar lure miliknya.

Sayang… lagi-lagi ikan gastor, padahal jika ikan ini berhasil dipancing di Pulau Jawa, pancinger  akan senang bukan main karena di sana ikan gabus memang telah langka, tapi di sini keberadaannya sangat melimpah, bahkan kami hampir-hampir bosan mendapatkannya. Hampir bersamaan, saya pun berhasil menaikkan ikan.  Inilah ikan sumpit, salah satu jenis lain penghuni asli sungai Bian. Walau kecil ikan ini cukup menghibur.
Kami kembali casting dengan semangat full. Tiba-tiba umpan minnow milik Joe tersambar diikuti reel tiba-tiba menjerit,  ikan menyambar kuat.  Ikan berontak luar biasa kuatnya. Seekor barramundi besar meloncat-loncat permukaan membuat semua terkesima. Perlawanan ikan memaksanya harus berakselerasi. Joe dibuat cukup kerepotan, terlebih di perahu yang sempit seperti ini.  Kegigihan Joe akhirnya ia pun berhasil memaksa ikan menyerah. Ikan ini sudah lumayan besar, di habitat aslinya ini,  ikan predator ini dapat tumbuh hingga seberat sepuluh kilogram lebih.  Joe berhasil memenang pertarungan. Mantaap! Ikan pun kami release,  mudah-mudahan masih ada sisa tenaga baginya untuk berenang dan hidup.
Parade strike masih berlanjut, kali ini Andre yang memainkan aksinya. Sayang hanya seekor gastor,  tapi lumayan lah untuk makan siang kami nanti,  ikan ini terkenal cukup gurih rasa dagingnya.  Joe kembali strike dengan ikan duri dan  ikan duri pun menyerah, ukurannya cukup besar kali ini. Walau belum mendapat ikan arwana hari ini, kami belum mau menyerah. Casting akan kami lanjutkan besok.

Ini adalah casting di hari ke 3. Semangat kami tetap tinggi. Lagi-lagi Joe yang membuka peruntungan. Nasibnya sedang mujur pada trip kali ini. Tarikan kuat seperti ini memang menjadi karakter ikan barramundi. Pergerakannya cukup merepotkan. Untuk ukuran ikan air tawar,  ikan ini memang terkenal sangat bertenaga, inilah yang menyebabkan baramundi selalu dirindu para angler.
Saat casting tiba-tiba umpan saya disambar ikan dan dari loncatannya saya tahu bahwa  itu adalah ikan arwana. Saya pun tak mau kalah pamor. Saya mulai fight dengan kalem dan penuh percaya diri. Ikan berhasil saya gaet. Saya hakul yakin,  ikan arwana ini pasti saya naikkan.  Firasat saya benar-benar terbukti,  si lincah ini pun berhasil menyerah.

Ikan ini menambah track record perolehan saya ! Tak banyak angler atau pancinger  yang beruntung bisa merasakan sensasi strike dan berpose dengan arwana seperti ini. Luar biasa pengalaman kami di Merauke ini. Kisah petualangan kami masih akan berlanjut, tentunya dengan aksi yang lebih seru, tunggu pada episode selanjutnya. Mancing Mania… mantap!!!.***Dudit Widodo

1 komentar: